Pelangi di Larantuka: Catatan Rihlah Literasi ke Nusa Tenggara Timur (13)

Rubrik Kegiatan/Literasi Oleh

Oleh YANUARDI SYUKUR

Sebuah artikel berjudul “Menjadi Penulis Produktif di Era Digital” saya tulis untuk kebutuhan Seminar Nasional ini. Untuk berbagi, saya akan kutip secara utuh tulisan tersebut. Walaupun saat bawa materi tidak sepenuhnya berdasarkan pada tulisan ini, melainkan pada “apa yang dibutuhkan” oleh peserta seminar secara praktis dalam seminar di siang hari yang panas di Larantuka. Berikut adalah artikel yang saya buat di Depok pada 16 Februari 2018.

Rasanya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa saat ini hampir semua sektor kehidupan kita mengalami digitalisasi. Sesuatu yang sebelumnya dikerjakan secara offline, kini dirasakan penting untuk jadi online. Orang jualan misalnya, dulu hanya dilakukan di pasar-pasar tradisional atau toko, tapi kini berkembang penjualan online yang pasarnya semakin meningkat. Pun demikian dengan para penulis yang dulunya menulis di mesin ketik (atau di komputer), kini merasa penting untuk memublikasikan karyanya di media-media online, bahkan karya ilmiah pun saat ini—terutama untuk kenaikan jenjang kepegawaian—mensyaratkan adanya karya tulis yang dapat dirujuk di laman-laman terpercaya.

Perkembangan digital ini mau tak mau membuat para penulis harus beradaptasi dengan lingkungan yang ada. Mengirim tulisan ke koran misalnya, tidak lagi harus diprint dan dibawa langsung (atau dikirim) ke alamat redaksi, tapi kini lewat email saja seseorang dapat berkirim tulisan. Tapi, semakin mudahnya jalur pengiriman karya ke koran, semakin selektif juga para editor untuk menentukan sebuah karya layak terbit atau tidak. Biasanya, mereka cukup membaca judul, lead (“kepala pembuka” tulisan), dan isinya secara cepat, mereka bisa langsung menentukan ini tulisan layak muat atau tidak. Persaingan pun semakin ketat.

Di zaman digital seperti sekarang kalau kita tidak bisa beradaptasi, kita akan punah. Kepunahan dinosaurus misalnya, itu dipercaya karena mereka tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan zaman yang terus berkembang. Berikut ini adalah beberapa ide sederhana tentang bagaimana cara jadi penulis produktif di era digital.

(1) Temukan Fokus

Apa yang terlintas di kepala kita saat dengar nama Goenawan Mohamad? GM lebih dikenal sebagai esais. Kumpulan tulisan dia di Tempo yang berjilid-jilid, Catatan Pinggir, sampai sekarang masih jadi bacaan yang menarik tentang berbagai hal seperti kebangsaan, kewargaan, seni, filsafat, dan lain sebagainya. Kendati dia dikenal juga sebagai jurnalis dan pendiri Tempo, koran dan media yang spesialis investigatif, tapi GM teramat dikenal sebagai esais. Maka, dalam berbagai pelatihan menulis biasanya nama GM jarang terlewatkan, karena fokusnya sebagai esais.

Di zaman sekarang, kita perlu fokus. Tentu saja ada banyak jenis tulisan yang mungkin bisa kita geluti, tapi perlu sekali memiliki fokus dalam tulisan tertentu. Jika berminat pada esai, maka kembangkanlah cara menulis esai. Baca banyak-banyak karya esais terkenal di negeri ini, seperti Goenawan Mohamad, Emha Ainun Nadjib, Yudi Latif, Subhan MD, dan sebagainya. Jika memungkinkan, baca juga esai yang ditulis oleh orang luar seperti Fareed Zakaria, yang tulisan-tulisannya banyak dipublikasikan di Washington Post. Kadang, membaca tulisan orang bisa menginspirasi kita untuk menulis judul menarik, lead yang enak dibaca, dan narasi yang tidak membosankan.

Jika minatnya pada karya ilmiah, maka bacalah banyak-banyak karya ilmiah. Belilah jurnal-jurnal yang ada, dan pelajari bagaimana cara mereka menulis. Sederhananya begini: jika ingin menulis seperti orang lain maka kita harus pelajari karya-karya mereka. Tapi sambil membaca karya, usahakan untuk menemukan kekhasan dari karya sendiri. Artinya, jangan terlalu tergila-gila dengan gaya tulisan orang lain, apalagi yang sedang terkenal. Usahakan pelajari karya mereka, dan temukan gaya kepenulisan kita masing-masing. Setelah itu, berfokuslah untuk menulis topik-topik yang disenangi, dan terus kembangkan dan perdalam topik tersebut. Makin dalam sebuah karya, makin senang orang membacanya, karena spesialis.

Secara umum, dalam semua jenis tulisan (fiksi atau nonfiksi), baiknya kita menentukan fokus. Orang tertentu ada yang bisa menulis banyak genre tulisan seperti Buya Hamka yang bisa menulis novel, buku-buku agama, bahkan juga menulis sejarah. Tidak semua orang bisa melakukan itu. Biasanya, kalaupun ada yang bisa menulis karya dalam banyak genre, mereka tetap akan punya fokus pada bidang tulisan tertentu. Habiburrahman El Shirazy, Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Agustinus Wibowo, atau sebutlah Tere Liye juga memilih fokus pada novel atau karya fiksi yang membuat mereka lihai di bidangnya. Jadi, berfokus itu lebih baik.

(2) Buat Tulisan Bercerita

Semua orang senang cerita. Entah itu dibacakan, atau diperdengarkan. Maka tulisan yang enak di zaman sekarang adalah tulisan yang bercerita. Konten yang terlalu berat dan membuat kepala pusing tidak banyak dibaca orang. Akan tetapi, tulisan yang ringan, seperti kita bercerita, lebih enak dibaca, dan lebih banyak viral di media sosial.

Saya pernah menulis sebuah esai untuk HUT Jakarta dan dipilih editor UC News, sebuah platform media online milik Ali Baba. Dalam tulisan itu saya menulis tentang Jakarta yang saya lihat, dengar, dan rasakan, dengan cerita. Saya cerita bahwa Jakarta adalah tempat dimana banyak orang bertemu untuk mengadu nasib. Di sini pusat negara kita berada, dan sebagai warga negara yang sering ke sini, saya merasakan bahwa kekerasan perlu dihilangkan dari Jakarta. Itu semacam harapan saja. Kita bisa juga menulis tentang kota kita masing-masing dengan pendekatan yang berbeda-beda, tapi usahakan ditulis seperti bercerita. Caranya, dengan memulai tulisan dengan cerita atau bisa juga dengan kata-kata yang agak filosofis dari orang lain atau dari kutipan sendiri.

Tentu saja, kemampuan bercerita tiap orang pasti beda-beda. Tergantung pada jam terbangnya. Untuk bisa menjadi pencerita, atau story teller yang baik, harus banyak juga membaca karya orang, pengalaman orang, dan perbanyak latihan. Kata orang, kalau ingin jadi ahli, kita perlu latihan minimal 8 jam sehari. Mungkin agak berat, tapi paling minimal untuk latihan menulis kita bisa jadwalkan 2 jam sehari. Jika dilakukan secara serius menulis 2 jam (bisa pagi, siang, sore, atau malam—terserah mana yang enak) lambat laun tulisan kita akan terasa enak juga.

(3) Rencanakan Kapan Naskah Buku Selesai

Saya mulai menulis buku saat jadi mahasiswa Jurusan Antropologi di Universitas Hasanuddin. Saat itu, saya lihat orang-orang di Jawa banyak sekali yang telah terbitkan buku, tapi kenapa saya tidak bisa. Saat itu, sekitar tahun 2000-an, masih jarang mahasiswa Unhas yang menulis buku. Maka, saya pun berusaha untuk “bisa setara” dengan kawan-kawan di Jawa. Saya usahakan menulis terus. Ketika ada komputer nganggur, saya pinjam dan buat tulisan. Walhasil, suatu ketika saya menguji diri sendiri, “apakah bisa saya menulis buku dalam waktu maksimal satu minggu?”

Saya pun mencobanya, dan ajaib! Saya berhasil menuntaskan sebuah naskah buku sederhana berjudul “Menemani Bidadari Suara Hati Seorang Mahasiswa” dalam waktu 6 hari. Buku itu kemudian dicetak foto kopi, dan dibedah. Selanjutnya, dicetak dalam versi yang lebih baik oleh sebuah penerbit. Sebagai info, buku yang ditulis cuma 6 hari itu bahkan pernah dibedah sekitar 8 kali, di gedung pertemuan ilmiah, radio, dan juga di pelataran kampus. Mungkin itulah kekuatan semangat. Kalau kita semangat dan terus berusaha, kita pasti bisa. Di buku Sang Alkemis, ada sebuah ungkapan bagus yang sampai sekarang saya ingat, “Saat kau menginginkan sesuatu, maka seluruh alam semesta membantumu meraihnya.” Jadi, kalau kita serius, kita bisa. Pepatah yang agak populer lagi, bunyinya begini, “Siapa bersungguh-sungguh dia dapat.” Man jadda wajada.

(4) Jika Tulisan Telah Selesai, Segera Bagi dan Minta Respon Orang Lain

Manusia punya sisi gelap (dark side) yang bisa jadi dia tahu atau tidak tahu. Kadang, sebagai penulis kita merasa tulisan kita sudah bagus, padahal jika dibaca lebih jeli, isinya masih berantakan. Untuk itu, tulisan yang telah selesai sebaiknya jangan hanya disimpan. Cobalah dikirim ke media cetak atau online. Perkara tulisannya bagus atau tidak (asalkan sudah diedit dan minimalisir salah ketik), itu tidak mengapa. Kirimlah tulisan itu, dan kalau sudah dimuat segeralah untuk bagi dan minta respon dari teman-teman.

Jika ada yang mengeritik, terimalah kritikan itu secara terbuka dan berbesar hati. Ingatlah bahwa tidak semua orang mau baca tulisan orang lain. Itu fakta. Maka, jika ada yang baca dan mengeritik, itu bagus. Waktu awal-awal menulis, saya punya teman yang biasa mengeritik tulisan. Dia coret banyak sekali. Tapi saya menikmatinya, dan coba pelajari dimana letak kesalahannya. Juga, waktu menulis di koran kampus saya beruntung karena ada teman lainnya yang mengeritik tulisan saya. Akhirnya, lewat kritikan itu kita jadi lebih mawas diri, tidak asal nulis, dan bersemangat untuk buat tulisan yang paling bagus.

Saat ini tiap orang bisa jadi ada media sosial. Tidak ada salahnya kirim tulisan yang sudah dimuat ke media sosial. Perkara ada yang baca atau tidak, itu tidak ada masalah. Atau, kalau mau lebih enak, tulisan yang sudah dimuat itu dikirim ke beberapa teman lebih senior dan minta pendapatnya. Biasanya, komunikasi personal akan mendatangkan lebih banyak manfaat untuk melihat tulisan yang telah dimuat.

(5) Perkuat Referensi

Walaupun konten tulisan itu “suka-suka kita”, tapi sebaiknya pakai referensi agar tulisan jadi lebih dapat dipertanggungjawabkan. Referensi banyak bentuknya, bisa berupa buku (buku teks, buku populer, kamus, dst), jurnal (jurnal online, ilmiah, nasional maupun internasional), surat kabar (online maupun offline), dokumen, surat-surat penting, foto, video, atau pengalaman kita sendiri. Seperti kita buat skripsi yang ada referensi, menulis juga sebaiknya ada referensi. Paling minimal, untuk tulisan esai pakai satu referensi.

Tulisan yang ada referensinya tentu saja beda dengan yang tidak ada. Tapi, jangan terlalu banyak referensinya untuk tulisan populer. Berbeda dengan tulisan ilmiah yang harus kuat rujukannya, tulisan populer bisa disesuaikan dengan kebutuhan naskah. Jika satu atau dua referensi sudah dirasakan cukup, itu saja. Intinya, semakin kita terbiasa dengan referensi, semakin kita membudayakan tradisi ilmiah dalam tulisan kita.

Terkait referensi, yang cukup penting juga menurut saya adalah menulis budaya kita masing-masing. Indonesia ini karya dengan budaya yang tidak ada di luar negeri. Jika budaya kita ditulis dengan gaya bercerita, tentu saja itu akan menarik sekali. Sekian banyak tradisi lokal yang ada di negeri ini jika ditulis pastinya akan luar biasa karena unik sekaligus dapat memperkaya kajian tentang kebudayaan bangsa kita yang sangat beragam.

Menjadi penulis di zaman sekarang tidak hanya butuh ilmu menulis, tapi juga butuh konsistensi. Maka, setinggi apapun ilmu yang ada di kepala tapi kalau tidak ada konsistensi maka semua itu tidak akan jadi apa-apa. Untuk itu, komitmen untuk menulis secara serius, menerbitkan buku, dan membudayakan diskusi cukup penting untuk menjaga semangat menulis. *

Dosen dan peneliti bidang Antropologi Sosial yang menulis 60 buku berbagai genre (Islam, Timur Tengah, biografi, dan motivasi, riset sosial). Beberapa bukunya dikaji sebagai tugas akhir di perguruan tinggi dan didokumentasikan di berbagai perpustakaan di Indonesia, Singapura, dan Australia. Pada tahun 2017, buku yang diinisiasinya "Hidup Damai di Negeri Multikultur" (GPU, 2017) diluncurkan di Kedubes Australia. Ia pernah diundang sebagai narasumber di Kuala Lumpur, Bangkok, beberapa stasiun televisi Indonesia dan MBC Korea. Saat ini, mahasiswa S3 Antropologi FISIP UI ini menjadi Ketua Bidang Usaha dan Jasa Penulisan/Penerbitan Agupena Pusat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*