Pelangi di Larantuka: Catatan Rihlah Literasi ke Nusa Tenggara Timur (14)

Rubrik Kegiatan/Literasi Oleh

Oleh YANUARDI SYUKUR

Sehari sebelum seminar saya telah merasa puas dengan artikel jadi, akan tetapi rasanya itu tidak cukup. Saya harus buat powerpoint yang lebih ringan, apalagi materi ini di siang-siang dengan jumlah peserta 300-an orang. Maka, dibutuhkan materi dan pendekatan yang lebih sederhana.

Ketika bawa materi, saya mulai menjelaskan sekilas tentang 6 literasi dasar yang dibutuhkan manusia zaman now agar bertahan, yaitu: literasi baca-tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, dan literasi budaya dan kewargaan. Enam hal ini saya dapatkan pendalamannya dari materi Direktur Pembinaan Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan (Bindiktara) Kemdikbud Dr. Abdul Kahar waktu saya diundang menjadi pembicara terkait literasi di kalangan Komunitas Adat Terpencil (KAT) dalam perspektif antropologis, di Hotel Novotel, Jogja.

Setelah menjelaskan itu, saya meneruskan dengan bahasan tips praktis menulis produktif di zaman now. Tapi, memberikan dua kunci penting dalam menulis buku adalah penting. “Jadi, kunci menulis paling penting itu ada dua: banyak-banyak membaca dan banyak-banyak menulis.” Hanya dua itu. Perbanyak aja keduanya, pasti bisa juga pada akhirnya.

Terkait fokus, saya menjelaskan tentang bagaimana saya menulis buku populer dalam waktu yang tidak begitu lama (ada yang 6 hari, 14 hari, 30 hari, 60 hari, bahkan ada yang makan tahun). Semua angka itu terkait dengan fokus. Jika lagi banyak waktu kosong, banyak juga naskah yang bisa kita tuntaskan. Tapi, kalau lagi banyak kesibukan, kadang berat kita selesaikan sebuah buku. Maka, kalau lagi sibuk, bisa kolaborasi saja dengan seorang kawan, atau beberapa kawan untuk menulis satu buku. Artinya, kalau nggak bisa menulis sendiri, ada peluang juga untuk menulis antologi (buku bareng).

Intinya, fokus saja. Waktu masih bekerja dengan Professor Jimly Asshiddiqie, ia pernah bercerita bahwa waktu ke Amerika ia menghabiskan beberapa waktu hanya untuk menulis satu buku yang belum ditulis di Indonesia. Tetap tentang hukum tata negara, bidang kajiannya yang kata Professor Salim Said waktu pertemuan Institut Peradaban, “membuat Prof Jimly selalu dibutuhkan oleh negara.”

Siapa fokus, dia dapat. Siapa fokus, buku dia cepat selesai.

Kemudian, usahakan juga menulis buku itu yang bercerita. Karena buku kita akan dibaca oleh manusia, maka usahakan isinya itu berbicara. Manusia senang “diajak bicara”, ya lewat buku. Maka, buku yang terlalu tegang, terlalu text oriented (kecuali untuk teks-teks akademik atau jurnal), kadang membuat orang bosan. Tapi, sebenarnya, jika teks akademik bisa dibahasakan secara lebih ringan, tentu akan lebih mudah dipahami oleh pembaca lebih luas.

Anggaplah saat menulis itu kita bercerita. Kayak sekarang: saat menulis artikel ini saya anggap tengah bercerita kepada teman-teman. Karena ini tulisan populer, maka saya tidak ingin terlalu tegang dalam membahasakan apa yang hendak saya tulis. Ringan-ringan saja, karena toh manusia zaman now lebih senang yang bercerita dan ringan. Itulah kenapa misalnya, iklan-iklan di televisi atau media sosial cenderung untuk menceritakan sesuatu yang tidak terlalu fokus pada produk. Jadi, mereka fokus pada human interest dari produk tersebut. Kadang terlihat tidak nyambung, tapi ada sentuhan manusia yang bisa membuat orang akan membeli produk tersebut pada saatnya nanti, atau minimal mengingatnya.

Selain itu, jama’ah sekalian, kalau mau tulisannya cepat selesai, harus ada deadline atau batas waktu yang ditepati. Misalnya, kita ingin tulis buku dalam 2 minggu, maka tepati deadline yang ada. Batas waktu itu disesuaikan dengan kemampuan (waktu, kesempatan, kesehatan) kita. Kalau lagi sakit, jangan paksakan diri menuntaskan naskah buku dalam waktu cepat. Jadi, soal deadline ini soal kontekstual dan soal kolaborasi dari tekad yang kuat, semangat yang terjaga, dan kemampuan fisik yang prima untuk menuntaskan naskah.

Orang yang menulis dalam dua minggu tidak menjamin tulisannya bagus, atau jelek. Pun demikian yang menulis sekian tahun juga tidak menjamin karyanya bagus. Bagus tidaknya sebuah karya sangat personal sifatnya. Menurut A bisa jadi bagus tapi B mungkin nggak suka. Ini juga terkait selera. Tapi, penulis yang sukses adalah yang dapat menggerakkan orang lain. Artinya, jika ada satu saja orang yang tergerak maka itu sudah kesuksesan.

Saya juga bercerita soal referensi. Biasanya yang jadi masalah ketika orang menulis yaitu pada referensi. Banyak yang bilang, “saya nggak ada referensi cukup.” Padahal, referensi itu banyak, bisa jurnal internasional, jurnal nasional (terakreditasi atau tidak), buku teks, buku populer, majalah, koran, media online, dan semua yang kita lihat, dengar, dan rasakan itu bisa jadi referensi untuk menulis.

Pemikir Yunani macam Plato misalnya, ide-idenya menjadi referensi karena dia mengoptimalkan segenap potensi indranya sebagai referensi. Berguru pada Socrates membuat Plato dapat banyak kedalaman. Hingga ketika gurunya itu tewas dibunuh pada 399 SM, Plato yang berusia 30 tahun pun mulai menuliskan percakapannya dengan Socrates. Oleh karena itu, pikiran-pikiran Socrates di berbagai referensi sekarang kita rujuknya dari tulisan Plato. Kemudian, setelah menulis gagasan gurunya, dia kemudian memulai karya besarnya berjudul The Republic (Greek: Politea, Latin: Res Publica) yang membahas soal keadilan dan negara-kota.

Kata Plato, “orang-orang terbaik haruslah menjadi pelindung bagi yang lainnya.” Dengan perspektif “dunia ideal” dan “dunia nyata”, Plato kemudian mewujudkan ide-idenya dalam The Republic. Sederhananya, dia mengibaratkan dunia ideal itu seperti orang-orang yang dirantai di sebuah gua yang tidak bisa lihat keluar goa. Mereka hanya tahu yang ideal versi mereka yang melihat bayangan ideal dari pantulan bayang-bayang dari luar ke dalam. Padahal, yang nyata berada di luar. Sebagai sebuah gagasan, ini tentu saja “criticable”, dapat dikritik.

Ketika mau menulis soal politik Indonesia, misalnya, kita bisa merujuk pada berbagai buku bersejarah seperti Di Bawah Bendera Revolusi (Bung Karno), Demokrasi Kita (Bung Hatta), atau buku-buku lainnya yang lebih kontemporer dalam berbagai sudut pandang. Referensi buku memang penting, akan tetapi referensi dari media-media online juga tidak kalah penting untuk melacak sebuah kajian hingga ke ujung pangkalnya. Bahkan, kisah-kisah ringan para politisi juga dapat menjadi rujukan dalam tulisan. Waktu baca Skandal Politik Tokoh-tokoh Dunia (Nigel Cawthorne), saya dapat banyak info “dunia politisi” yang tidak ditampakkan dalam media-media mainstream. Artinya, sumber-sumber sampingan seperti itu bisa jadi dapat menjelaskan fenomena yang tak dapat dijelaskan dengan pendekatan biasa.

Jadi, soal referensi itu banyak. Misalnya, teman-teman di Larantuka hendak menulis tentang Larantuka, maka banyak hal yang dapat ditulis. Mulai dari sejarah masuknya Katolik ke daerah tersebut, kebudayaan Lamaholot, harmoni antar agama, politik lokal, alam dan kebudayaan, mistik, dan lain sebagainya. Hal itu bisa ditulis berdasarkan pengalaman sebagai warga setempat ditambah dengan rujukan dari cerita orang tua-tua, tradisi lisan, mitologi, dan berbagai referensi baik yang ditulis oleh penulis asing atau Indonesia.

Ditulis dengan bahasa yang ringan, pasti buku tersebut sangat berguna agar orang mengenal Larantuka, seperti para penulis Yunani menulis tentang negeri mereka sampai karya-karya mereka diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk ke dunia Islam. Jika melihat sejarah, karya-karya Yunani itu masuk ke dunia Islam telah dimulai di masa Bani Umayyah (masa Khalifah Khalid bin Yazid atau sumber lain menyebut di masa Khalifah Marwan bin Hakam), kemudian diteruskan secara lebih massif di masa Dinasti Abbasiyah (masa Khalifah Al-Ma’mun) yang menerjemahkan karya-karya Yunani, Persia, dan Suryani ke dunia Islam yang berpusat di Baghdad lewat lembaga Bait Al-Hikmah.

Artinya, jika orang Flores Timur hendak lebih aktif lagi dalam menelurkan karya-karya besar, maka mereka harus bersatu-padu untuk mendukung sepenuhnya gerakan literasi dan mendorong anak negerinya untuk terus belajar hingga jenjang tertinggi (di dalam dan luar negeri), dan kemudian membuat karya-karya besar yang inspiratif tidak hanya untuk lokal Larantuka dan sekitarnya akan tetapi untuk dunia. Saat ini, Indonesia butuh banyak buku bernas, karya-karya besar seperti karya orang-orang Yunani dulu. *

Dosen dan peneliti bidang Antropologi Sosial yang menulis 60 buku berbagai genre (Islam, Timur Tengah, biografi, dan motivasi, riset sosial). Beberapa bukunya dikaji sebagai tugas akhir di perguruan tinggi dan didokumentasikan di berbagai perpustakaan di Indonesia, Singapura, dan Australia. Pada tahun 2017, buku yang diinisiasinya "Hidup Damai di Negeri Multikultur" (GPU, 2017) diluncurkan di Kedubes Australia. Ia pernah diundang sebagai narasumber di Kuala Lumpur, Bangkok, beberapa stasiun televisi Indonesia dan MBC Korea. Saat ini, mahasiswa S3 Antropologi FISIP UI ini menjadi Ketua Bidang Usaha dan Jasa Penulisan/Penerbitan Agupena Pusat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*