Pelangi di Larantuka: Catatan Rihlah Literasi ke Nusa Tenggara Timur (15)

Rubrik Kegiatan/Literasi Oleh

Oleh YANUARDI SYUKUR

Menulis buku bareng-bareng (antologi) punya banyak manfaat untuk menangkap pendapat yang bervariasi dari masing-masing orang, melahirkan kebersamaan, dan juga untuk membantu lahirnya para penulis pemula yang bersatu dalam karya dengan penulis profesional. Singkat, karya antologi punya banyak nilai guna, yang secara umum adalah satu: kebersamaan.

Saya memulai menulis buku antologi saat jadi Ketua FLP Sulsel. Ketika itu, saya mendengar ada orang Ambon yang sakit di RS Wahidin Sudirohusodo dan tidak punya uang. Akhirnya, saya komunikasikan dengan beberapa kawan di Unhas, dan disepakati: kita buat buku. Buku itu sebagai sarana untuk pengumpulan dana sekaligus sebagai sarana berkarya. Walau tidak banyak dana terkumpul tapi buku berjudul Saat Kemanusiaan di Persimpangan: Antologi Puisi 101 Penulis Makassar itu menjadi “jejak awal” bagi jejak-jejak karya antologi selanjutnya.

Saya juga membuat Suka Duka Penulis Pemula bersama beberapa kawan. Buku tersebut menceritakan pengalaman kita dalam memulai menulis. Memang, kita belum apa-apa, tapi yang “lebih belum apa-apa” alias belum memulai atau memulai tapi bingung lebih banyak. Bersama beberapa kawan kami terbitkan buku tersebut.

Ketika WhatsApp jadi media diskusi, saya juga pernah menginisiasi terbitnya buku Mesir: Pesona dan Tragedi. Buku tersebut ditulis bersama teman-teman di grup WA FLP se-Dunia dalam momentum jatuhnya Presiden Mesir Dr. Muhammad Mursi yang dikudeta oleh Jenderal Abdel Fattah As-Sisi. Saat buku itu dibuat, saya juga sebelumnya telah menyelesaikan buku personal berjudul Presiden Mursi: Kisah Ketakutan Dunia pada Kekuatan Ikhwanul Muslimin, sebuah buku biografi Mursi dengan penjelasan yang ringan-ringan. Seorang kawan mahasiswa Pascasarjana di UI, kabarnya menjadikan buku tersebut sebagai salah satu referensi dalam karya tulisnya.

Semangat menulis antologi juga pernah saya inisiasi di Agupena dalam buku Pappatamma: Perlindungan Perempuan dan Anak Berbasis Kearifan Lokal di Indonesia (8 penulis), Potret Perempuan dan Anak: Praktik Budaya dan Tradisi Masyarakat Berbagai Daerah di Indonesia (55 penulis, kerjasama dengan Kementerian PPPA) dan Membangun Kapasitas Guru Penulis (23 penulis). Ketiga buku ini saya sunting dan telah terbit. Hal menyenangkan ketika tiga buku ini terbit adalah, ada ketika banyak penulis baru muncul, mulai percaya diri, serta mulai mendapatkan sedikit “uang lelah” dari tulisannya. Ketiga buku ini terbit dalam periode satu tahun (2016-2017).

Karya antologi lainnya yang saya inisiasi dan sunting adalah yang paling tebal berjudul Hidup Damai di Negeri Multikultur (Gramedia, 2017). Buku ini saya seriusi selama 2 tahun dan menghasilkan 77 penulis baik dari alumni Muslim Exchange Program (MEP) Indonesia maupun Australia. Setelah diluncurkan di Executive Residence Kedubes Australia oleh Wakil Dubes Dr. Justin Lee, buku ini tersebar di tangan alumni mulai dari Aceh sampai Papua, dan telah dibedah di dua kota: Jakarta (Universitas Paramadina) dan Makassar (UIN Alauddin). Dengan karya pengantar dari Dubes Australia Paul Grigson dan Guru Besar Emeritus The Australian National University (ANU) Professor Virginia Hooker, buku ini menjadi semakin lengkap.

Dalam upaya untuk menyebarkan ide buku tersebut, maka buku Hidup Damai di Negeri Multikultur pun coba disebarkan. Bukunya memang dicetak terbatas, dan sangat tebal. Tapi, ke depannya saya ingin membuatkan dalam versi ringan, entah dalam bentuk buku atau dalam bentuk cerita-cerita ringan di media sosial based on buku tersebut.
Nah, saat berkunjung ke Larantuka inilah saya membawa buku tersebut sebagai hadiah kepada Bupati Flores Timur Anton Hadjon. Sebelumnya, buku ini juga telah saya hadiahkan kepada beberapa tokoh seperti Prof Achmad Fedyani Saifuddin (FISIP UI), Luhut B. Panjaitan (Menkomaritim), Jenderal Iza Fadri (Dubes RI untuk Myanmar), Susan M. Shultz (Konselor Diplomasi Publik Kedubes Amerika), Irjen Pol (purn) Dr. Benny J. Mamoto (Wakil Direktur SKSG UI), Prof Nader Habibie (Brandeis University), Alan Feinstein (Executive Director AMINEF), serta berbagai institusi di dalam dan luar negeri. Namun, sekali lagi karena terbatasnya buku tersebut maka tidak banyak yang dapat diberikan. Tapi, saya berharap suatu saat dapat menulis buku yang dapat diberikan kepada banyak orang dan institusi yang lebih luas.

Sampai di sini, apa yang hendak dikabarkan terkait menulis buku antologi? Semangat untuk berbagi dan berkolaborasi. Ya, semangat berbagi adalah modal paling utama, ditambah dengan semangat berkolaborasi dengan kawan-kawan lainnya. Sebagai makhluk sosial kita butuh kerjasama, dan menulis buku bareng-bareng adalah bagian penting dalam upaya untuk membudayakan literasi di Indonesia. *

Dosen dan peneliti bidang Antropologi Sosial yang menulis 60 buku berbagai genre (Islam, Timur Tengah, biografi, dan motivasi, riset sosial). Beberapa bukunya dikaji sebagai tugas akhir di perguruan tinggi dan didokumentasikan di berbagai perpustakaan di Indonesia, Singapura, dan Australia. Pada tahun 2017, buku yang diinisiasinya "Hidup Damai di Negeri Multikultur" (GPU, 2017) diluncurkan di Kedubes Australia. Ia pernah diundang sebagai narasumber di Kuala Lumpur, Bangkok, beberapa stasiun televisi Indonesia dan MBC Korea. Saat ini, mahasiswa S3 Antropologi FISIP UI ini menjadi Ketua Bidang Usaha dan Jasa Penulisan/Penerbitan Agupena Pusat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*