Pelangi di Larantuka: Catatan Rihlah Literasi ke Nusa Tenggara Timur (16)

Rubrik Kegiatan/Literasi Oleh

Oleh YANUARDI SYUKUR

Kerjasama antara pemerintah dan masyarakat sangat penting untuk memajukan pendidikan dan kesejahteraan. Ketika membuka acara seminar, Bupati Flotim Anton Hadjon menunjukkan minat dan perhatiannya pada pentingnya budaya literasi di daerah ini.

Dia melihat bahwa banyak guru yang berasal dari kampung di ruangan ini, dan dia merasa senang karena itu menunjukkan bahwa para guru memiliki semangat yang tinggi untuk terus belajar.

“Di Flores Timur, gerakan literasi lebih banyak dilakukan oleh guru-guru kampung,” kata Hadjon. Katanya lagi, di kabupaten Flotim ini, kota paling besarnya hanya Larantuka, maka guru-guru kampung yang hadir ke acara ini menunjukkan semangat yang baik untuk kebangkitan literasi di daerahnya.

Maksimus Masan Kian laman Facebook-nya (6/3), menulis sebuah catatan menarik, “Bupati Flores Timur Antonius Gege Hadjon mengaku kagum dengan kegiatan yang dilakukan Agupena Flotim selama ini. Diam-diam, dalam kapasitasnya sebagai Kepala Daerah selalu mengamati gerakan literasi di Flotim selama ini dihidupkan oleh guru-guru kampung.”

Bagi Bupati Anton, tulis Maksimus lagi, “tak perlu gedung yang megah sebagai perpustakaan. Cukup dengan sebuah gubuk kecil yang penting menyediakan buku bacaan yang memadai. Selain itu disertai motivasi yang mengajak masyarakat terutama anak sekolah untuk selalu membaca buku.”

Para guru yang gemar menulis sejatinya, kata Hadjon lagi, adalah “membagi sesuatu kepada orang lain.” Untuk berbagi, maka mereka harus memiliki sesuatu itu. Persis seperti kata pepatah, “Orang yang tidak memiliki tidak akan memberi.”

Selanjutnya, Hadjon juga meminta para guru untuk menulis tema-tema budaya lokal daerah ini yang tidak ditemukan pada daerah lainnya. Kekayaan lokal Flores Timur harus dieksplorasi dalam bentuk tulisan yang menarik, bahkan kalau perlu yang agak imajinatif dan mengundang rasa penasaran orang untuk membaca, bahkan berkunjung ke daerah ini. Dengan demikian, maka pariwisata lokal dapat terangkat dengan kehadiran para wisatawan dari luar.

Menurut beliau lagi, para guru dapat menuangkan ide-idenya tidak hanya lewat buku, akan tetapi bisa lewat berbagai media, termasuk media sosial yang saat ini perkembangannya sangat pesat. Ia menceritakan bagaimana acara seminar nasional ini viral sedemikiran rupa lewat Facebook. Itu menunjukkan bahwa, jika seorang guru aktif menulis di Facebook, maka karyanya akan lebih cepat dibaca orang. Dengan demikian, maka penyebaran informasi kepada orang lain akan lebih cepat transformasinya.

Melihat geliat gerakan literasi di daerahnya, Bupati Hadjon bahkan berjanji. “Jika gerakan literasi sudah mengakar di masyarakat, saya akan bersedia mendeklarasikan Flores Timur sebagai Kabupaten Literasi!” Beberapa waktu lalu, di Kabupaten Lembata bahkan tengah mempersiapkan diri sebagai “Kabupaten Model Literasi Indonesia” dalam kunjungan Duta Baca Indonesia, Najwa Shihab, yang dihadiri juga oleh Wakil Bupati Lembata Thomas Ola Langoday (pos-kupang.com, 13/8/2017).

Selanjutnya, kata Bupati Anton gerakan literasi di Flotim terus berkembang setiap hari dan berharap selalu bertumbuh dan mengakar di masyarakat. Hidupnya gerakan literasi di Flotim kata Bupati Anton tidak lepas dari inisiatif orang muda terutama guru muda yang terwadah dalam Agupena Flotim.

“Tak lupa ia berpesan kepada para guru agar menjadi seorang penulis yang baik, bijak menggunakan media sosial dalam bingkai nilai nilai Ke-Lamaholot-an. Terutama dalam menyampaikan kritik dan saran agar tetap menjaga sopan santun sebagai Orang Lamaholot.” Demikian, dikutip dari Humas Agupena Flotim, sebagaimana yang dipublikasikan di laman kabarflotim.blogspot.co.id. *

Dosen dan peneliti bidang Antropologi Sosial yang menulis 60 buku berbagai genre (Islam, Timur Tengah, biografi, dan motivasi, riset sosial). Beberapa bukunya dikaji sebagai tugas akhir di perguruan tinggi dan didokumentasikan di berbagai perpustakaan di Indonesia, Singapura, dan Australia. Pada tahun 2017, buku yang diinisiasinya "Hidup Damai di Negeri Multikultur" (GPU, 2017) diluncurkan di Kedubes Australia. Ia pernah diundang sebagai narasumber di Kuala Lumpur, Bangkok, beberapa stasiun televisi Indonesia dan MBC Korea. Saat ini, mahasiswa S3 Antropologi FISIP UI ini menjadi Ketua Bidang Usaha dan Jasa Penulisan/Penerbitan Agupena Pusat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*