Pelangi di Larantuka: Catatan Rihlah Literasi ke Nusa Tenggara Timur (17)

Rubrik Kegiatan/Literasi Oleh

Oleh YANUARDI SYUKUR

Biasanya seminar di kabupaten yang hadir hanya salah satunya, kalau bukan Bupati ya Wakil Bupati. Atau, diwakili oleh Kepala Dinas. Tapi, di seminar ini berbeda. Bupati dan Wakil Bupati kompak hadir, membuka dan menutup. Ini luar biasa. Salut untuk Bapak Anton Hadjon dan Bapak Agustinus Payong Boli.

Pada sesi penutupan, Wakil Bupati Agust Boli memberikan masukan yang berharga. Kata dia, literasi di Flores Timur ini sebaiknya dilakukan berbasis riset. “Literasi berbasis riset perlu digiatkan,” kata dia. Kelak, hasil-hasil riset itu akan sangat berguna bagi pemerintah dalam penyusunan dan pengambilan kebijakan.

Dalam bayangan saya, Agupena Flores Timur perlu juga mengadakan semacam workshop penelitian dan penulisan gaya ilmiah-populer. Tidak hanya penelitian tindakan kelas (PTK) yang umum dilakukan para guru, akan tetapi juga penelitian tentang kebudayaan lokal yang menangkap hal-hal unik, menarik, dan “marketable” (dapat dijual) ke khalayak lebih luas seperti nilai-nilai lokal, sejarah, pariwisata, atau mungkin produk unggulan yang khas Flotim.

Jadi, tujuan kita berliterasi juga tidak sekedar untuk kampanye baca-tulis, tapi juga dapat berlanjut pada literasi finansial. Literasi tidak hanya berhenti pada pencerahan pikiran tapi dia harus maujud dalam menopang kesejahteraan masyarakat.

Wabup Boli juga bercerita bagaimana ia yang berasal dari keluarga petani miskin dan buta huruf tapi bisa melanjutkan pendidikan. “Ayah saya buta huruf total. A sebesar Gunung Mandiri juga dia tidak tahu.” Untuk itu, kata Boli, “maka saya berjuang untuk kualitas hidup!”

Dia kemudian melanjutkan pendidikan tinggi, dan meraih IPK 3.98. Waw! Sebuah angka fantastis, hampir sempurna (4.0). Ketika mahasiswa, Wabup Boli bahkan pernah menang lomba menulis tingkat nasional, mengalahkan mahasiswa lainnya dari kampus-kampus besar. Ini menjadi semacam motivasi besar bagi dirinya untuk terus belajar, dan berkarya.

Riset yang dilakukan oleh Agupena Flotim kata Wabup Boli lagi, bertujuan untuk memecahkan masalah atau problem solving. “Literasi harus dihidupkan dan menjadi benda hidup di kehidupan kita,” pungkasnya.

“Literasi bahkan harus menjadi sikap hidup. Menjadi agen pembangkit percaya diri. Menjadi lembaga pelayanan. Menjadi mitra pemerintah.”

Lebih aplikatif lagi, Wabup Boli juga akan menjadikan literasi sebagai muatan lokal (mulok) wajib di sekolah-sekolah. Mitranya, ya Agupena Flotim. “Ini adalah bentuk sinergi adalah pemerintah dengan masyarakat,” tandasnya.

Di sela-sela acara, Wabup Boli juga memberikan kepedulian kepada guru kampung dengan memberikan ongkos transport kepada peserta.

Baiklah. Ide-ide ini sangat baik dan konstruktif untuk masyarakat. Sudah selayaknya diaplikasikan. Selanjutnya, lewat tulisan ini, bola saya oper ke Kapten Maksimus Masan Kian. Maksi. *

Dosen dan peneliti bidang Antropologi Sosial yang menulis 60 buku berbagai genre (Islam, Timur Tengah, biografi, dan motivasi, riset sosial). Beberapa bukunya dikaji sebagai tugas akhir di perguruan tinggi dan didokumentasikan di berbagai perpustakaan di Indonesia, Singapura, dan Australia. Pada tahun 2017, buku yang diinisiasinya "Hidup Damai di Negeri Multikultur" (GPU, 2017) diluncurkan di Kedubes Australia. Ia pernah diundang sebagai narasumber di Kuala Lumpur, Bangkok, beberapa stasiun televisi Indonesia dan MBC Korea. Saat ini, mahasiswa S3 Antropologi FISIP UI ini menjadi Ketua Bidang Usaha dan Jasa Penulisan/Penerbitan Agupena Pusat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*