Pelangi di Larantuka: Catatan Rihlah Literasi ke Nusa Tenggara Timur (19)

Rubrik Kegiatan/Literasi Oleh

Oleh YANUARDI SYUKUR

Seusai berkunjung ke suatu daerah, selalu ada pertanyaan penting yang orang ajukan, “Bagaimana kesan Anda tentang lokasi yang Anda temui?”

Waktu orang Eropa tiba di kampungnya, mereka juga pernah ditanya yang sama tentang orang-orang timur yang mereka temui, di Asia dan Afrika. Ada yang bilang, “Mereka manusia manusia.” Ada yang bilang, “Mereka makhluk primitif.” Dan ada yang bilang pula, “Mereka setengah setan.” Komentar itu diceritakan oleh Professor Koentjaraningrat dalam buku Pengantar Antropologi. Jadi, orang Barat merasa diri paling unggul, paling beradab, sedangkan orang-orang timur dianggap tidak beradab, dan liar.

Tapi kita tinggalkan dulu tentang orang Barat dan Orang Timur itu. Jika ditanya kesanku selama tiga hari di Larantuka, maka inilah yang bisa saya katakan.

Orang Larantuka adalah pribadi yang ramah. Keramahan itu terlibat dari cara berbicara mereka yang agak pelan, dan cenderung berhati-hati. Mereka tidak asal bicara atau asbun. Sebaliknya, mereka memilih untuk berhati-hati dalam mengeluarkan kalimat.

Keramahan mereka juga dibarengi dengan penghormatan yang tinggi kepada tamu. Sejak tiba hingga pulang, saya merasakan kehormatan itu–sesuatu yang lebih dari tempat lainnya. Kita disambut dengan pengalungan selendang, di acara juga dapat pengalungan yang sama, dan ketika pulang kita dijemput sampai selesai.

Bahkan, ketika saya sedang transit di Surabaya (sebelum ke Jakarta, dari Kupang), ketua panitia juga menelepon.
“Pak Yanuardi sudah dimana?”

“Saya sudah di pesawat ini, Pak Arnold, sebentar lagi akan take off ke Jakarta.” begitu jawab saya. Ada penghormatan dan perhatian yang sungguh-sungguh kepada tamu, atau bahkan kepada orang yang telah mereka anggap sebagai teman.

Selain itu, orang Larantuka juga antusias dengan literasi. Bayangkan, mereka datang jauh-jauh melewati darat dan laut hanya untuk hadir dalam kegiatan seminar. Kalau bukan karena semangat untuk belajar, niat untuk meningkatkan diri, itu tidak akan mereka lakukan. Itu luar biasa menurutku.

Orang Larantuka menunjukkan kepolosan dan kejujuran. Wajah mereka menunjukkan itu. Berbeda dengan misalnya orang-orang tertentu yang kepolosannya mengandung sesuatu: Ada U di balik B. Saya lihat, dan rasakan, mereka tidak begitu. Mereka tidak buat-buat kepolosan dan kejujurannya. Mungkin, begitulah karakter universal yang umum ada pada masyarakat kepulauan yang jauh dari siasat politik yang sekedar mencari target elektoral.

Tentu saja yang namanya kesan itu relatif. Akan tetapi, inilah yang saya rasakan. Mereka juga senang berkawan. Dari sekian banyak materi yang saya bawakan di berbagai tempat, baru kali ini banyak sekali peserta yang add Facebook saya sekian banyak. Mereka senang berkawan, senang belajar, dan tak pelit untuk berbagi pengetahuan. Mantablah, Larantuka…*

Dosen dan peneliti bidang Antropologi Sosial yang menulis 60 buku berbagai genre (Islam, Timur Tengah, biografi, dan motivasi, riset sosial). Beberapa bukunya dikaji sebagai tugas akhir di perguruan tinggi dan didokumentasikan di berbagai perpustakaan di Indonesia, Singapura, dan Australia. Pada tahun 2017, buku yang diinisiasinya "Hidup Damai di Negeri Multikultur" (GPU, 2017) diluncurkan di Kedubes Australia. Ia pernah diundang sebagai narasumber di Kuala Lumpur, Bangkok, beberapa stasiun televisi Indonesia dan MBC Korea. Saat ini, mahasiswa S3 Antropologi FISIP UI ini menjadi Ketua Bidang Usaha dan Jasa Penulisan/Penerbitan Agupena Pusat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*