Pelangi di Larantuka: Catatan Rihlah Literasi ke Nusa Tenggara Timur (2)

Rubrik Kegiatan/Literasi Oleh

Oleh YANUARDI SYUKUR•

Selain ke Goa Kristal, saya juga jalan ke Pantai Oesapa, Kampus Universitas Nusa Cendana (Undana), dan balik ke bandara.

Pantai Oesapa ini relatif tenang. Di dekat situ ada penjual makanan. Tak jauh dari pantai, terlihat pohon lontar yang berdiri tegak. Dari sekian banyak pantai yang pernah saya temui, adanya pohon lontar ini membuat pantai ini lebih spesial. Jadi, bukan sekedar pohon kelapa yang batangnya menjorok ke pantai yang biasanya kita lihat di lukisan-lukisan.

Di pantai ini saya sempat berfoto. Panasnya tidak jauh berbeda dengan pantai daerah lainnya. Mungkin tidak jauh beda dengan panasnya Pantai Ancol di Jakarta, Pantai Losari di Makassar, tapi sedikit lebih dingin Pantai Kuta di Bali.

Sampah laut merupakan masalah universal yang ada di kota-kota yang dekat dengan laut. Di Ternate misalnya, kendati telah ada program pembersihan sampah laut, terkadang sampah itu ada terus yang dibawa oleh arus dari pulau-pulau sekitar atau yang dibuang oleh masyarakat setempat. Bahkan, waktu kuliner malam ada di sekitar Pantai Falajawa, banyak orang yang buang sampah plastik di laut. Padahal, sampai plastik itu paling sudah hancurnya.

Dari pantai, saya ke Undana. Di sana, saya berkunjung ke FISIP. Seperti biasa, FISIP adalah salah satu destinasi kampus saya kalau lagi ke daerah. Waktu berkunjung ke Jambi, setelah bawa materi di salah satu kampus afiliasi Nahdlatul Ulama (NU) di sana, saya juga berfoto di depan tulisan FISIP. Kendati tidak masuk, foto dari luar sudah cukup sebagai tanda bahwa lulusan FISIP tidak lupa akan kampus FISIP lainnya.

Selain itu, berfoto di depan Rektorat juga bagian penting kalau berkunjung ke kampus. Rektoratnya megah, bagus, dan ada pohon lontar di depannya. Saya rencana mau ketemu Professor Frans Umbu Datta, mantan rektor, akan tetapi rupanya nomornya sudah hilang, dan di kartu namanya tidak ada nomor ponsel. Ketemu pertama kali dengan Prof Frans di Hotel Atlet Century, Jakarta, waktu pertemuan Forum Rektor, saya melihat bahwa beliau punya kepedulian yang besar sekali untuk membangkitkan pendidikan di kawasan timur, khususnya di Kupang, tempat dimana ia jadi dosen.

Setelah keliling Undana, saya balik ke bandara. Kepada Zul saya beri sebuah buku baru saya berjudul “Buya Hamka” yang baru saja terbit (Desember 2017 lalu) oleh Penerbit Tinta Media, sebuah imprint Penerbit Tiga Serangkai Solo. Buku tersebut diberi kata pengantar oleh H. Afif Hamka (anak Buya Hamka), dan endorsement oleh beberapa kawan saya. Buku ini menceritakan tentang kisah hidup Hamka yang seorang penulis, ulama, dan pernah jadi politisi dalam dinamika Indonesia.

Hamka pernah dekat dengan Bung Karno, bahkan pernah berfoto bareng Karim Oey dan Bung Karno, tapi ketika berseberangan paham politik, dia pun dijebloskan ke penjara. Dua setengah tahun Hamka di penjara, tapi dia tidak dendam kepada Bung Karno. Bahkan, ketika Bung Karno berwasiat jika kelak ia wafat maka ia mau Hamka yang menjadi imam salatnya, Hamka menyanggupi itu.

Kisah Hamka dengan Bung Karno cukup penting untuk melihat bagaimana relasi-relasi tokoh bangsa kita yang tidak melulu dalam konteks oposisi biner yang ketat. Artinya, jika seseorang memilih jadi nasionalis atau sosialis bukan berarti dia akan beda sepenuhnya dengan sebutlah kalangan agamis. Tapi, kepentingan politik sering mereduksi makna pertemanan, dan terkadang mendekam di hotel Prodeo adalah taktik klasik yang dilakukan oleh seorang kawan kepada kawan lainnya akibat perbedaan pendapat.

Tapi, kita tinggalkan dulu soal kisah dalam buku Hamka tersebut. Tak lama lagi pesawat baling-baling akan berangkat ke Larantuka. *

Dosen dan peneliti bidang Antropologi Sosial yang menulis 60 buku berbagai genre (Islam, Timur Tengah, biografi, dan motivasi, riset sosial). Beberapa bukunya dikaji sebagai tugas akhir di perguruan tinggi dan didokumentasikan di berbagai perpustakaan di Indonesia, Singapura, dan Australia. Pada tahun 2017, buku yang diinisiasinya "Hidup Damai di Negeri Multikultur" (GPU, 2017) diluncurkan di Kedubes Australia. Ia pernah diundang sebagai narasumber di Kuala Lumpur, Bangkok, beberapa stasiun televisi Indonesia dan MBC Korea. Saat ini, mahasiswa S3 Antropologi FISIP UI ini menjadi Ketua Bidang Usaha dan Jasa Penulisan/Penerbitan Agupena Pusat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*