Pelangi di Larantuka: Catatan Rihlah Literasi ke Nusa Tenggara Timur (20-selesai)

Rubrik Kegiatan/Literasi Oleh

Oleh YANUARDI SYUKUR

Pada akhirnya, hari akan berlalu. Dan semua kenangan pun akan hilang satu persatu. Angin yang berhembus pelan di pantai Larantuka pun menjadi sekedar kenangan.

Orang bilang, hidup adalah pengalaman. Itulah kenapa disebut, “pengalaman adalah guru paling baik.” Jadi, kalau kita ingin berguru, maka bergurulah pada pengalaman.

Jauh sebelum kita hadir, tanah-tanah di Nusantara ini telah dihuni berbagai macam orang. Mereka telah berjalan, dan melakukan apa yang mereka bisa buat tanah dimana mereka hidup. Kini, kita telah hidup di tempat yang tetap, tak lagi berpindah-pindah sebagaimana orang yang lalu-laku. Maka, menjadikan tanah tetap ini sebagai tanah yang aman, nyaman, dan bahagia adalah penting.

Pada sebuah sore, saat jalan di pasir putih, saya terduduk tak jauh dari sebuah replika kapal yang biasa digunakan sebagai “restoran.” Tak berapa lama, dari kejauhan di atas langit terlihat warna-warni. Pelangi. Persis seperti hari sebelumnya ketika saya hendak mendarat ke tanah ini.

Bagi orang tertentu, pelangi itu sekedar fenomena alam. Ya, sudah biasa. Tapi, bagiku tak ada yang biasa. Sekecil apapun itu, selalu mengandung sisi luar biasa. Kenapa? Karena, itu hanya terjadi sekali. Hanya di waktu itu yang tidak ada samanya dengan waktu lain.

Bisa jadi, pelangi yang hadir di senja itu hendak mengatakan bahwa keindahan hidup ini ada pada warna, pada beda. Jika dibawa pada kehidupan manusia, perbedaan itulah yang menyatukan kita. Seperti Sumpah Pemuda yang berkumpul pemuda-pemuda dari berbagai warna, dari berbagai beda.

Perbedaan itu bukanlah halangan untuk bersatu. Maka, sejauh apapun perbedaan kita, kita harus bersatu. Harus bersama-sama berbuat untuk kepentingan bersama dengan spirit yang disebut oleh orang Lamaholot sebagai gelekat lewo tanah, yaitu sebuah semangat untuk menjalankan amanat pembinaan diri, menghasilkan karya berguna, dan menyebarkan karya-karya itu dalam kebersamaan.

Mari berbuat yang terbaik. Salam literasi! *

Depok, 6-9 Maret 2018

Dosen dan peneliti bidang Antropologi Sosial yang menulis 60 buku berbagai genre (Islam, Timur Tengah, biografi, dan motivasi, riset sosial). Beberapa bukunya dikaji sebagai tugas akhir di perguruan tinggi dan didokumentasikan di berbagai perpustakaan di Indonesia, Singapura, dan Australia. Pada tahun 2017, buku yang diinisiasinya "Hidup Damai di Negeri Multikultur" (GPU, 2017) diluncurkan di Kedubes Australia. Ia pernah diundang sebagai narasumber di Kuala Lumpur, Bangkok, beberapa stasiun televisi Indonesia dan MBC Korea. Saat ini, mahasiswa S3 Antropologi FISIP UI ini menjadi Ketua Bidang Usaha dan Jasa Penulisan/Penerbitan Agupena Pusat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*