Pelangi di Larantuka: Catatan Rihlah Literasi ke Nusa Tenggara Timur (3)

Rubrik Kegiatan/Literasi Oleh

Oleh YANUARDI SYUKUR•

Dalam perjalanan menuju pesawat Wings Air, ada yang manggil saya dari belakang.

“Bapak ke Larantuka, ya? Pak Yanuar, bukan?” tanya seseorang.

“Iya, Pak.” Ternyata, itu seorang kawan yang juga pembicara juga di seminar nanti. John Lobo, namanya. Saya sudah hafal namanya lewat statusnya yang saya baca di timeline Facebook Maksimus.

Walaupun kenal nama dan sekilas dari foto, tapi saya kadang memilih berhati-hati untuk menyapa. Soalnya, pernah di salah satu kantor di Jalan Sudirman, Jakarta, saya menyapa orang dengan akrab, eh tau-taunya salah orang. Mana saat itu kita naik lift bareng ke atas. Saya pun hanya diam. Pernah juga waktu berpapasan di FISIP UI, saya menyapa seseorang yang saya kenal. Eh, taunya salah orang. Malu juga. Sejak itu, kalau belum betul-betul kenal, saya memilih “menjaga jarak” dulu.

Pertemuan dengan lelaki asal Bajawa yang menetap di Purwokerto tersebut adalah pertemuan yang cerdas, dan menambah perspektif. Setelah bertemu, kami berfoto di plang Bandara Internasional El Tari untuk dikirim ke Maksimus. Di pesawat, beliau juga bercerita tentang aktivitasnya yang banyak bergelut dalam bidang literasi. “Gerakan Katakan dengan Buku” (GKdB) adalah gerakan mulia yang ia lakukan untuk mengirimkan buku ke berbagai pelosok negeri yang kekurangan bacaan. Sungguh, ini tindakan mulia dan jarang orang mau melakukannya. Tapi, John Lobo bisa menjalaninya secara konsisten.

Dalam perjalanan naik Wings, saya lihat laut lepas. Saya duduk sendiri. Kalau ingat duduk sendiri, saya jadi teringat waktu dalam perjalanan dari Melbourne ke Canberra. Sendirian di belakang, dan cuma lihat pegunungan. Bedanya, dari Kupang ke Larantuka saya lihatnya beberapa pulau yang tidak banyak penghuninya, dan laut lepas.

Pesawat ini terbangnya tidak tinggi. Beda dengan penerbangan jauh yang di atas 30.000 kaki, ini mungkin 15.000 kaki. Saya jadi teringat usaha Pak Habibie waktu beliau membuat pesawat yang berguna buat penerbangan antara kota di Indonesia yang kepulauan ini. Kata Pak Habibie, pesawat buatannya tersebut jika jadi akan sangat berguna buat negeri ini, walaupun kemudian perusahaannya tidak jalan lagi. Saya yakin, jika pesawat buatan dalam negeri itu bisa terealisasi, maka akses dari satu pulau ke pulau lainnya jadi makin mudah, dan biaya pembelian pesawat itu pun pastinya lebih murah ketimbang beli dari luar.

Tiba di Bandara Gewayanta, Larantuka, saya sempat foto di depan pesawat. Bandaranya tidak begitu besar. Lebih besar Bandara Sultan Babullah Ternate. Untuk percepatan ekonomi, landasan pacu bandara ini harus diperpanjang lagi. Kata Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut B. Panjaitan, pihaknya akan memperpanjang bandara Larantuka ini sepanjang 500 meter agar dapat dimasuki oleh pesawat berbadan lebih besar. Selain itu, katanya lagi, akan dibangun Dermaga Kontainer di Wello untuk mendukung program tol laut (Kompas.com, 1/11/2017). Jika kedua infrastruktur laut dan udara ini bisa lebih bagus, maka perekonomian juga akan lebih meningkat.

Setelah tiba di ruang pengambilan bagasi, sebuah hal terjadi: koper saya tidak ada! Baru kali ini koperku hilang dalam penerbangan, tapi sebagai penumpang yang baik kita nggak boleh marah-marah kepada petugas. Santai saja. Petugas pun bertanya ciri-ciri koper saya. Tak lama setelah itu, dapatlah kepastian bahwa “koper bapak tertinggal di Kupang.”

Sementara itu, di luar bandara beberapa panitia telah siap menyambut dengan prosesi pengalungan syal. Saya keluar bentar, dan masuk lagi untuk pengambilan data.

Yah, mau gimana lagi. Ini penerbangan terakhir. Koper tidak bisa ke sini sore ini. Mau tak mau kita harus menunggu kopernya datang besok pagi sebelum acara. Tapi, demi kenyamanan, saya harus putar otak gimana caranya agar dapat baju. Akhirnya: saya harus ke pasar! *

Dosen dan peneliti bidang Antropologi Sosial yang menulis 60 buku berbagai genre (Islam, Timur Tengah, biografi, dan motivasi, riset sosial). Beberapa bukunya dikaji sebagai tugas akhir di perguruan tinggi dan didokumentasikan di berbagai perpustakaan di Indonesia, Singapura, dan Australia. Pada tahun 2017, buku yang diinisiasinya "Hidup Damai di Negeri Multikultur" (GPU, 2017) diluncurkan di Kedubes Australia. Ia pernah diundang sebagai narasumber di Kuala Lumpur, Bangkok, beberapa stasiun televisi Indonesia dan MBC Korea. Saat ini, mahasiswa S3 Antropologi FISIP UI ini menjadi Ketua Bidang Usaha dan Jasa Penulisan/Penerbitan Agupena Pusat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*