Pelangi di Larantuka: Catatan Rihlah Literasi ke Nusa Tenggara Timur (4)

Rubrik Kegiatan/Literasi Oleh

Oleh YANUARDI SYUKUR•

Perjalanan dari bandara ke Hotel Asa tak seberapa jauh. Tidak sampai satu jam sudah sampai. Saya dan Pak John Lobo dijemput oleh Ketua Panitia, Pak Arnoldus Ola Aman dan ibu bendahara pakai mobil salah seorang kepala dinas setempat.

Tiba di Hotel Asa, lumayan menyenangkan. Karena hotelnya tidak seberapa besar, tapi bagus dan pinggir laut. Kolam renang kecil dibuat di pinggir pagar pantai. Di luarnya, ada kapal yang biasa dipakai untuk makan-makan. Tapi waktu kami ke situ, kapal batu dan kayu tersebut sedang diperbaiki.

Dari pinggir hotel jika melihat ke laut kita akan lihat pasir putih yang halus, serta hamparan lautan yang tenang. Jika di sebelah kanan terlihat pulau, maka sebelah kirinya terlihat lautan lepas. Boleh dikata, pantai Larantuka ini masih alami, dan dapat menjadi salah satu destinasi bagi pelancong luar dan dalam negeri.

Setelah meletakkan barang di hotel, saya pun ke pasar untuk cari pakaian. Untuk jaga-jaga saja, jangan sampai besok pagi kopernya belum tiba. Di hotel, saya menginap bersama Herwin Hamid, salah seorang guru berprestasi nasional yang prestasinya udah kemana-mana. Terbang dari Kendari, Herwin adalah salah seorang guru kreatif, penuh gagasan, senang cerita dan berbagi ide dan pengalamannya.

Perjalanan dari hotel ke pasar tidak seberapa jauh juga. Hanya segaris lurus saja kita sudah tiba. Saya ditemani Pak John dan ibu bendahara. Di pinggiran toko saya lihat ada penjual pisang. Persis dengan potret di kampungku, Tobelo, yang penjualnya berjualan di depan toko di pasar.

Setelah beli pakaian, kita pulang, tapi mampir sejenak di depan sebuah kapel (gereja kecil) dan berfoto di sebuah tempat prosesi Katolik bernama Mater Dolorosa. Di situ, dalam kepercayaan Katolik, ada penanda-penanda kisah hidup Yesus. John Lobo menjelaskan kepada saya dengan baik.

Saya pikir, Bapak John ini mungkin tidak hanya sekedar aktivis literasi, tapi juga seorang romo, yang banyak mengenal dan menghayati iman Katolik. Kami juga bercerita tentang novel Da Vinci Code karangan Dan Brown yang menyebut bahwa Yesus memiliki istri bernama Maria Magdalena. John membantahnya. “Maria itu dulunya orang yang berdosa dan bertobat, tapi dia bukan istri Yesus.”

Lelaki asal Bajawa tersebut juga bercerita bahwa hierarki Katolik itu sangat jelas dari Vatikan sampai Keuskupan di Larantuka. Mereka satu komando, kira-kira begitu.

Saya juga berdialog dengan John soal siapa yang disalib. “Kalau di Islam, kita meyakini bahwa Yesus (atau Isa) itu tidak disalib akan tetapi diangkat ke langit, sedangkan yang disalib adalah Yudas Iskariot, salah seorang muridnya yang berkhianat,” kata saya.

Berbeda dengan kepercayaan Katolik, bahwa yang disalib adalah Yesus (Isa). Iman Katolik meyakini bahwa Yesus hadir ke muka bumi sebagai manusia yang membebaskan mereka dari dosa yang dilakukan sejak Adam. Tapi, yang disalib itu, kata John adalah Yesus. “Salah satu bukti lagi adalah bahwa di hari ketiga penguburan Yesus, jenazahnya tidak ada dalam kuburan. Ia dibangkitkan,” kata John.

Sebelum menuju ke mobil, saya dengan John bersepakat bahwa masing-masing agama memiliki iman yang berbeda yang sifatnya prinsipil. Namun, dalam interaksi sosial semua pemeluk agama dapat bekerjasama, termasuk dalam budaya literasi. Larantuka, adalah salah satu contoh bagaimana toleransi agama berjalan dengan baik. Nanti saya akan cerita. *

Dosen dan peneliti bidang Antropologi Sosial yang menulis 60 buku berbagai genre (Islam, Timur Tengah, biografi, dan motivasi, riset sosial). Beberapa bukunya dikaji sebagai tugas akhir di perguruan tinggi dan didokumentasikan di berbagai perpustakaan di Indonesia, Singapura, dan Australia. Pada tahun 2017, buku yang diinisiasinya "Hidup Damai di Negeri Multikultur" (GPU, 2017) diluncurkan di Kedubes Australia. Ia pernah diundang sebagai narasumber di Kuala Lumpur, Bangkok, beberapa stasiun televisi Indonesia dan MBC Korea. Saat ini, mahasiswa S3 Antropologi FISIP UI ini menjadi Ketua Bidang Usaha dan Jasa Penulisan/Penerbitan Agupena Pusat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*