Pelangi di Larantuka: Catatan Rihlah Literasi ke Nusa Tenggara Timur (5)

Rubrik Kegiatan/Literasi Oleh

Oleh YANUARDI SYUKUR•

Ada tiga hal yang inheren dalam kebudayaan orang Larantuka, yaitu: penghargaan terhadap budaya leluhur, penghayatan atas nilai Katolik dan toleransi, dan penghargaan terhadap alam. Itu amatan sederhana saya dalam kunjungan yang sangat terbatas ini.

Orang Larantuka umumnya beretnis Lamaholot. Etnis ini tersebar di Nusa Tenggara Timur di Kabupaten Flores Timur, Tanjung Bunga, Adonara, Solor, dan Lembata. Bahasa mereka namanya Lamaholot juga yang terbagi dalam dua dialek, yaitu Lamaholot dialek barat (Kabupaten Flores Timur), dan Lamaholot dialek timur (Tanjung Bunga, Adonara, Solor, dan Lembata).

Saya belum banyak tahu tentang Lamaholot. Akan tetapi, ada buku yang membahas tentang itu. Yang saya tahu baru bahasa panggilan kepada lelaki yang lebih tua (ama), dan perempuan yang lebih tua (ina) alias kakak dan adik. Di hari pertama, saya belum dengar kata ini, tapi di hari kedua, saya dengar kata ini diucapkan oleh Romo Thomas Labina ketika kami ngobrol-ngobrol sambil menunggu kedatangan Bupati Flores Timur membuka seminar nasional.

Kabarnya, menurut info “om google”, selain dua dialek tersebut, orang Lamaholot di bagian Lembaga selatan punya bahasa lain, yaitu Lebala-Boto. Sedangkan, di kota Larantuka, mereka pakai bahasa Nagi, yaitu bahasa Melayu Flores. Mungkin semacam bahasa “lingua franca” yang telah terasimilasi dengan bahasa-bahasa lainnya dan menjadi bahasa umum (secara tepatnya mungkin saya harus merujuk ke referensi dulu atau sumber dari orang Larantuka).

Yang menarik dalam melihat etnis Lahamolot adalah pandangan kosmologis mereka, bahwa alam semesta (makro kosmos) tidak dilihat sebagai obyek melainkan subyek yang sama dengan dirinya. Dalam kalimat tertentu, orang orang Lamaholot kadang menyebut terimakasih kepada lelulur di alam ini yang telah membantu mereka. Pada bagian ini, harmoni antara manusia (culture) dan alam (nature) memang dijaga untuk menciptakan berbagai keseimbangan, apakah itu social order atau natural order.

Sebaliknya, jika manusia tidak berselaras dengan alam, maka malapetaka bisa saja terjadi.

Inilah yang menjelaskan kenapa pada berbagai kebudayaan, harmoni antara manusia dan alam menjadi sangat penting untuk menciptakan keteraturan. Alam semesta, roh nenek-moyang, dan Tuhan menjadi konsep-konsep penting yang mendapatkan penghargaan sangat tinggi.

Sayangnya, waktu saya di Larantuka ini hanya tiga hari. Jadi, tidak banyak yang dapat saya eksplorasi dari kebudayaan tempatan.

Tapi, yang menjadi fakta juga adalah masyarakat ini memiliki toleransi yang tinggi. Seorang kawan bercerita, bahwa dalam pembangunan gereja, orang-orang Islam turut membantu. Pun sebaliknya, dalam pembangunan masjid, orang-orang Kristen juga membantu. Hampir sama dengan masyarakat lain di Nusantara ini yang saling-bantu dalam masalah sosial dengan tetap menghargai kepercayaan personal atau komunal terhadap mana yang benar dan mana yang salah.

Jika di ibukota Jakarta kita lihat adanya toleransi dan harmoni antara Masjid Istiqlal dengan Katedral, maka di Larantuka ini terlihat gereja-gerejanya sama bagusnya dengan masjid-masjidnya. Ini tentu saja social capital yang sangat penting bagi kerjasama antar masyarakat untuk menciptakan kehidupan sosial yang damai, toleran, dan sejahtera. *

Dosen dan peneliti bidang Antropologi Sosial yang menulis 60 buku berbagai genre (Islam, Timur Tengah, biografi, dan motivasi, riset sosial). Beberapa bukunya dikaji sebagai tugas akhir di perguruan tinggi dan didokumentasikan di berbagai perpustakaan di Indonesia, Singapura, dan Australia. Pada tahun 2017, buku yang diinisiasinya "Hidup Damai di Negeri Multikultur" (GPU, 2017) diluncurkan di Kedubes Australia. Ia pernah diundang sebagai narasumber di Kuala Lumpur, Bangkok, beberapa stasiun televisi Indonesia dan MBC Korea. Saat ini, mahasiswa S3 Antropologi FISIP UI ini menjadi Ketua Bidang Usaha dan Jasa Penulisan/Penerbitan Agupena Pusat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*