Pelangi di Larantuka: Catatan Rihlah Literasi ke Nusa Tenggara Timur (6)

Rubrik Kegiatan/Literasi Oleh

Oleh YANUARDI SYUKUR•

Sepanjang “karierku” sebagai penikmat ikan, menurutku ikan Larantuka ini paling enak di banding daerah lain. Agak subyektif memang. Mungkin karena sejak tinggal di Depok saya jarang makan ikan yang betul-betul segar, atau karena memang ikan Larantuka itu aslinya paling enak.

Kata salah seorang kawan, ikan Larantuka itu enak karena dia berada di tempat pertemuan air tawar dan air asin. Kalau nggak salah, begitu katanya. Jika, begitu benar adanya, maka kita perlu cari ikan yang berada di tempat pertemuan itu. Atau, mungkin saja enaknya karena faktor lautnya yang masih alami. Karena yang sederhana memang selalu manis, dalam semua hal.

Ikan yang saya makan di Larantuka cuma dibakar seperti biasa dengan sambil dan sayur. Sederhana. Akan tetapi yang bikin dia enak adalah ikannya. Boleh dikata, walaupun tidak makan pakai sambel, ikan itu sudah enak dengan sendirinya. Jadi, enaknya dia sepertinya tidak begitu bergantung pada unsur lain selain setelah melewati proses pembakaran.

Di Taman Kota, makan makan ikan bakar itu. Ramai panitia dan pers yang hadir. Sama-sama makan termasuk nikmat, paling tidak untuk mendekatkan satu dan lainnya.

Katanya, kalau lagi gathering, semua ponsel harus disimpan. “Siapa yang duluan pegang HP maka dia yang bayar,” kata Herwin Hamid, guru teladan yang senang guyon. Ada betulnya juga sih. Kalau kita bertemu orang bagusnya HP diletakkan dulu. Fokus pada orang, bukan pada “orang” lain di dalam gawai tersebut.

Kembali ke soal ikan. Sampai sekarang saya masih terasa nikmatnya makan ikan di hari pertama dan kedua. Saya makan sampai kepala-kepalanya, sampai tulang-tulangnya bersih. Nikmatnya makan ikan segar tidaknya hanya karena faktor ikannya, menurutku. Akan tetapi, karena ada “sesuatu” yang lebih personal, yaitu: saat kecil dan berumah di pantai, ketika saya lahap makan ikan, orang tuaku biasa memotivasi untuk saya makan lagi, lagi, dan lagi sampai kenyang. Kadang saya teringat momen-momen seperti itu. *

Dosen dan peneliti bidang Antropologi Sosial yang menulis 60 buku berbagai genre (Islam, Timur Tengah, biografi, dan motivasi, riset sosial). Beberapa bukunya dikaji sebagai tugas akhir di perguruan tinggi dan didokumentasikan di berbagai perpustakaan di Indonesia, Singapura, dan Australia. Pada tahun 2017, buku yang diinisiasinya "Hidup Damai di Negeri Multikultur" (GPU, 2017) diluncurkan di Kedubes Australia. Ia pernah diundang sebagai narasumber di Kuala Lumpur, Bangkok, beberapa stasiun televisi Indonesia dan MBC Korea. Saat ini, mahasiswa S3 Antropologi FISIP UI ini menjadi Ketua Bidang Usaha dan Jasa Penulisan/Penerbitan Agupena Pusat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*