Pelangi di Larantuka: Catatan Rihlah Literasi ke Nusa Tenggara Timur (7)

Rubrik Kegiatan/Literasi Oleh

Oleh YANUARDI SYUKUR•

Pada sebuah malam di Larantuka, saya mendengar lagu dari Hello, judulnya “Di Antara Bintang”, dirilis tahun 2011.
Di antara beribu bintang hanya kaulah yang paling terang. Di antara beribu cinta pilihanku hanya kau sayang. Takkan ada selain kamu dalam segala keadaanku. Cuma kamu ya hanya kamu yang selalu ada untukku.

Mendengar lagu ini saya sering dengerin dengan seksama. Kadang menghayati juga sih. Lagu-lagu tertentu memang ada yang menyentuh hati, bahkan mereka seakan-akan menceritakan tentang diri kita–pendengarnya.

Saat dengar lirik ini, saya menafsirkan dalam hati bahwa di antara beribu bintang di langit selalu ada bintang-bintang tertentu yang paling terang. Pun begitu dengan manusia. Di antara ribuan manusia yang kita kenal selalu ada saja orang-orang yang cahayanya paling terang buat kita. Orang tua, pasangan hidup, teman, atau siapa saja.

Di antara beribu bintang hanya kaulah yang paling terang. Di antara beribu cinta pilihanku hanya kau sayang.

Selalu ada orang yang paling berjasa dalam diri kita sampai kita bisa berdiri seperti sekarang. Mereka mungkin tidak dikenal orang, akan tetapi jasanya jelas, bahkan otentik. Mereka ada karena mereka “selalu ada untukku”, dan “paling mengerti aku.”

Orang-orang terbaik selalu hadir dari berbagai tanah di bumi ini. Dimanapun mereka terlahir, mereka lahir dengan segenap dirinya–lebih dan kurang–tapi tak berkurang cahayanya buat orang lain.

Lihatlah ibu-ibu yang mengandung. Mereka rela kemana-mana dengan kandungannya, berkomunikasi dengan janinnya via cara yang nggak dimengerti para lelaki, bahkan harus membesarkan anak-anak mereka dengan kesabaran yang lebih.

Maafkan aku yang selalu menyakitimu. Mengecewakanmu dan meragukanmu. Tersadar aku bila kamu yang terbaik. Terima aku, mencintaiku apa adanya.

Di antara beribu bintang hanya kaulah yang paling terang. Di antara beribu cinta pilihanku hanya kau sayang. Takkan ada selain kamu dalam segala keadaanku. Cuma kamu ya hanya kamu yang selalu ada untukku.

Kirim doa buat orang-orang yang menerangi jalan kita dan paling mengerti kita. Sejatilah, wahai orang-orang tercinta! *

Dosen dan peneliti bidang Antropologi Sosial yang menulis 60 buku berbagai genre (Islam, Timur Tengah, biografi, dan motivasi, riset sosial). Beberapa bukunya dikaji sebagai tugas akhir di perguruan tinggi dan didokumentasikan di berbagai perpustakaan di Indonesia, Singapura, dan Australia. Pada tahun 2017, buku yang diinisiasinya "Hidup Damai di Negeri Multikultur" (GPU, 2017) diluncurkan di Kedubes Australia. Ia pernah diundang sebagai narasumber di Kuala Lumpur, Bangkok, beberapa stasiun televisi Indonesia dan MBC Korea. Saat ini, mahasiswa S3 Antropologi FISIP UI ini menjadi Ketua Bidang Usaha dan Jasa Penulisan/Penerbitan Agupena Pusat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*