Pelangi di Larantuka: Catatan Rihlah Literasi ke Nusa Tenggara Timur (8)

Rubrik Kegiatan/Literasi Oleh

Oleh YANUARDI SYUKUR•

Sebelum berangkat ke Larantuka, saya berteman di Facebook dengan seorang kepala sekolah, bernama Hen Kelen. Namanya mengingatkanku pada Helen Keller (1880-1968), seorang penulis Amerika, aktivis politik, dan dosen.

Di tengah berbagai kekurangannya (disabilitas), Helen Keller menulis 12 buku dan beberapa artikel. Dia tidak bisa melihat dan mendengar, akan tetapi anehnya bisa menulis buku, bahkan buku pertamanya itu terbit pada usianya 11 tahun.

“The Frost King” (1891), demikian judul buku pertamanya. Kendati ada yang bilang buku itu merupakan jiplakan dari The Frost Fairies karangan Margaret Canby, akan tetapi bisa dimaklumi karena ia mendengarkan cerita itu dari orang lain. Orang bilang, kejadian “buku jiplakan” tersebut termasuk kasus kriptomnesia, yaitu kondisi dimana seseorang membaca sebuah cerita tapi lupa sumbernya dari mana. Sementara, cerita-cerita itu telah terpatri di alam bawah sadarnya.

Di usia 22 tahun, Keller menulis buku autobiografinya, The Story of My Life (1903) yang dibantu oleh gurunya bernama Sullivan (dan suaminya: John Macy). Buku ini menceritakan kisah hidup Keller hingga usia 21 tahun ketika dia berkuliah di kampus.

Selanjutnya, dia juga menulis The World I Live In (1908), yang bercerita tentang bagaimana perasaan dia tentang dunia ini. Bayangkan: seorang yang nggak bisa melihat dan mendengar tapi bisa menulis buku di zaman ketika internet belum ada, dan berbagai hal masih terbatas. Luar biasa, bukan?

Tapi, tidak hanya berhenti di situ. Keller juga menulis Out of the Dark, yaitu kumpulan esai tentang sosialisme yang terbit pada tahun 1913.

Dia juga menulis buku autobiografi tentang agama. Mengutip sebuah sumber, ketika Keller muda, Anne Sullivan (gurunya) mengenalkannya pada Phillips Brooks, yang mengenalkannya pada agama Kristen. Kata Keller, “I always knew He was there, but I didn’t know His name!” Terjemahannya: “Saya selalu tahu Dia ada di sana, tapi saya tidak tahu nama-Nya!” Ini semacam perjalanan spiritualnya untuk “melihat” Tuhan.

Buku autobiografinya berjudul My Religion (1927). Pada tahun 1994, buku itu direvisi dan diterbitkan ulang dengan judul Light in My Darkness atau “Cahaya dalam Kegelapanku”–sebuah pencarian cahaya dari berbagai keterbatasan hidup.

Kiprah Helen Keller di tengah keterbatasannya menginspirasi banyak orang. Karena jasanya, maka pada 14 September 1964, Presiden Amerika Serikat Lyndon B. Johnson memberikannya Presidential Medal of Freedom, sebuah penghormatan kepada masyarakat sipil tertinggi di Amerika.

Kepedulian Keller terhadap kaum disabilitas juga terlihat dari aktivitasnya yang mengumpulkan dana bagi American Foundation for the Blind, sebuah yayasan untuk mereka yang tidak bisa melihat. Maka, tak heran kiprah Keller hingga sekarang masih dikenang oleh banyak orang. Dia berpulang ketika tidur pada 1 Juni 1968, dua tahun setelah pergantian kepemimpinan nasional kita dari Bung Karno ke Pak Harto.

Lantas, apa kaitan antara Helen Keller dengan Hen Kelen? Tentu saja tidak ada yang spesifik, akan tetapi sebagai kawan, saya berharap Pak Kepala Sekolah Hen Kelen dapat terus memberikan yang terbaik bagi murid-muridnya dan menulis buku seperti Helen Keller yang tidak bisa melihat dan mendengar.

Kita yang diberikan anugerah penglihatan, pendengaran dan hati, rasanya malu kepada Helen Keller jika tidak bisa melahirkan buku. Lihatlah judul-judul buku Keller di atas, rata-rata tentang pengalaman dirinya, kesehariannya, “dunianya”, dan hal-hal yang dia rasakan dalam hidupnya.

Maka, jika ada yang tanya: Bagaimana cara produktif menulis? Jawabannya: buku yang paling mudah ditulis adalah buku yang menceritakan tentang dunia kita sendiri, tentang apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan. Itu saja.

Dosen dan peneliti bidang Antropologi Sosial yang menulis 60 buku berbagai genre (Islam, Timur Tengah, biografi, dan motivasi, riset sosial). Beberapa bukunya dikaji sebagai tugas akhir di perguruan tinggi dan didokumentasikan di berbagai perpustakaan di Indonesia, Singapura, dan Australia. Pada tahun 2017, buku yang diinisiasinya "Hidup Damai di Negeri Multikultur" (GPU, 2017) diluncurkan di Kedubes Australia. Ia pernah diundang sebagai narasumber di Kuala Lumpur, Bangkok, beberapa stasiun televisi Indonesia dan MBC Korea. Saat ini, mahasiswa S3 Antropologi FISIP UI ini menjadi Ketua Bidang Usaha dan Jasa Penulisan/Penerbitan Agupena Pusat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*