Pelangi di Larantuka: Catatan Rihlah Literasi ke Nusa Tenggara Timur (9)

Rubrik Kegiatan/Literasi Oleh

Oleh YANUARDI SYUKUR•

Kebijaksanaan hadir dimana-mana. Tak terkecuali di Larantuka. Di sela-sela obrolan dengan beberapa kawan baru, saya mencatat ucapan-ucapan penting yang terlontar karena tingkat kedalamannya yang inspiratif dan menggugah.

Suatu ketika, Romo Thomas Labina berkata, “Kambing jantan walaupun kurus tapi dia punya tanduk panjang maka dia berharga. Begitu juga dengan babi, jika taringnya lebih panjang walaupun kurus, dia berharga.”

“Ini terkait dengan harga atau marwah manusia,” kata saya di status Facebook. Manusia jadi berharga karena apa? Mungkin: nama (karena manusia mati meninggalkan nama, bukan?). Atau, mungkin juga karena amal (dalam bahasa Islam), atau pelayanan (dalam bahasa Katolik).

Bersama adik-adik SD Larantuka yang menyambut kami bersama Bupati Flores Timur sebelum masuk gedung

Waktu sekolah dulu, di pelajaran Mahfuzhat, jawaban “harga manusia” tampak pada tingkat kealiman. Semakin alim seseorang, kendati badannya kecil, dia akan terlihat besar. Bijak bestari menulis, “Orang alim itu mulia walaupun ia kecil, sedangkan orang bodoh itu kecil walaupun dia tua renta.”

Biar tidak jadi bodoh, maka peribahasa itu beri solusi, “Ta’allam falaysal mar’u yuladu ‘aliman!” Belajarlah kamu! Karena tidak seorang pun lahir dalam keadaan berilmu. Dan, tidaklah sama antara orang yang berilmu dengan orang yang bodoh.

Begitu kira-kira ringkasan dari kalimat bijaksana yang pernah saya pelajari waktu remaja, dan menemukan konteksnya pada ucapan Romo Thomas Labina di atas.

Selain itu, kata-kata bijak juga terlontar dari ucapan Romo Thomas yang bilang begini, “Kalau kamu rajin, batu bisa jadi tanah. Tapi kalau tidak, tanah jadi batu.” Kalimat ini hendak memotivasi bahwa sifat rajin atau sungguh-sungguh dapat mengubah yang tidak mungkin (impossible) jadi mungkin (possible).

Batu yang keras bisa jadi tanah yang lembut kalau kita rajin. Persis seperti kata bijak lainnya, “Man jadda wajada!” Siapa bersungguh-sungguh, dapatlah dia! Jadi, kalau kita serius, kita akan dapat. Bahkan, kalau kita rujuk ke Al-Qur’an, dijelaskan bahwa manusia hanya akan dapat apa yang dia usahakannya. “Dan, bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya” (QS. An-Najm: 39).

Jadi, jelas. Siapa sungguh-sungguh dia dapat. Hasil sangat ditentukan seberapa giat seseorang bekerja. Dalam bahasa lain, “hasil tidak mengkhianati usaha.” Hard work never betray the result.

Orang yang bisa juga dulunya nggak bisa. Itu jelas. Nah, mengapa mereka bisa? Itu karena mereka usaha. Jika kita udah berusaha nggak dapat-dapat juga, bisa jadi itu karena usaha/ikhtiar kita belum maksimal. Jadi, kunci sukses itu begini: USAHA MAKSIMAL + DOA. Atau, biasa disebut juga dengan: Ora et Labora (Bekerja dan Berusaha, Pray + Work).

Saya juga mencatat kalimat bijaksana dari John Lobo yang (kalau tidak salah kutip) bilang begini, “Mata teman adalah cermin bagi kita.” Ya ya ya, bagus juga ini kata “Romo John.” Jadi, jika ingin melihat diri sendiri kita bisa melihat lewat kacamata teman. Apa kata teman mengandung satu sisi kebenaran yang patut untuk dipertimbangkan.

Dalam pengertian lebih luas, sesungguhnya semua orang (tidak hanya teman) yang kita temui juga bisa menjadi cermin bagi kita. Peribahasa populer berbahasa Inggris bilang begini, “Every person we meet in life is our mirror.” Semua orang yang kita temui dalam hidup adalah cermin bagi kita.

Dan yang terakhir, saya juga mencatat kalimat dari Romo Thomas yang bilang, “Kepintaran pribadi terletak di otak teman.” Ini hampir sama dengan kata “Romo John” tadi, bahwa kebaikan kita terletak pada bagaimana orang lain melihat kita. Tentu tidak sepenuhnya, tapi menurut saya, “otak teman”/”pendapat teman”/“penilaian teman” mengandung satu sisi kebaikan yang patut kita pertimbangkan.

Untuk itu, maka memperbanyak teman yang baik adalah bagian dari kebaikan itu sendiri. Karena manusia itu sangat bergantung pada temannya. Itulah kenapa manusia selain disebut sebagai homo sapiens yang berarti manusia bijaksana (wise man) dan makhluk berpengatahuan (knowing man), juga disebut sebagai homo socius yang berarti makhluk sosial (social man) yang tidak hidup sepenuhnya dalam isolasi. *

Foto: bersama adik-adik SD Larantuka yang menyambut kami bersama Bupati Flores Timur sebelum masuk gedung.

Dosen dan peneliti bidang Antropologi Sosial yang menulis 60 buku berbagai genre (Islam, Timur Tengah, biografi, dan motivasi, riset sosial). Beberapa bukunya dikaji sebagai tugas akhir di perguruan tinggi dan didokumentasikan di berbagai perpustakaan di Indonesia, Singapura, dan Australia. Pada tahun 2017, buku yang diinisiasinya "Hidup Damai di Negeri Multikultur" (GPU, 2017) diluncurkan di Kedubes Australia. Ia pernah diundang sebagai narasumber di Kuala Lumpur, Bangkok, beberapa stasiun televisi Indonesia dan MBC Korea. Saat ini, mahasiswa S3 Antropologi FISIP UI ini menjadi Ketua Bidang Usaha dan Jasa Penulisan/Penerbitan Agupena Pusat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*