• penyelenggara-pemilu-pilar-ke-lima-demokrasi.png
    sumber gambar : merdeka.com

Menjadi Generasi yang Melek Demokrasi

Rubrik Pendidikan Oleh

*Euforia* _“pesta”_ demokrasi dalam ajang pemilu sudah mulai terasa. Meskipun baru di laksanakan di tahun 2019 tepatnya di bulan april, namun kemeriahan dan suasana persaingan sudah mulai terasa. Hal ini disebabkan karena para calon kontestan yang akan “bersaing” meraih suara sudah mulai bergerak untuk menarik simpatik dari para calon pemilihnya. Berbagai macam cara dilakukan dari yang konvensional hingga yang modern. Salah satu contoh kegiatan kampanye secara konvensional adalah dengan memajang spanduk atau baliho di sudut-sudut jalan, tak jarang pohon yang menjadi korban terkena paku penguat spanduk. Sedangkan untuk ranah modern para calon menyasar media online atau lebih sering adalah dengan menggunakan media sosial.

Pemilu yang dilaksanakan pada tahun 2019 nanti adalah pemilu serentak. Sehingga dengan demikian kemeriahan, keramaian, dan juga biaya yang dikeluarkan penyelenggara tidaklah sedikit. Semoga saja harapan bagi warga negara biaya pelaksanaan yang sudah besar bisa diimbangi dengan hasil akhirnya yang membanggakan di mana para calon yang terpilih nantinya bisa amanah menjalankan tugas dan menepati semua janji-janjinya. Berjalan di track  yang benar. Terutama mereka harus dan wajib takut terhadap Tuhannya, sehingga dengan demikian tidak akan berani untuk berbuat jahat apalagi tega menghancurkan negaranya. Amanah yang diembannya dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Sehingga tercipta negara yang adil, makmur dan sentosa.

Layar televisi saat ini banyak dihiasi pemberitaan yang berkaitan dengan kontestasi pemilu 2019. Tak jarang acara debat digelar. Terutama yang berkaitan dengan kontestasi pemilihan kepala negara atau presiden. Banyak perdebatan terjadi yang terkadang menimbulkan emosi diantara kubu-kubu yang berdebat. Tidak hanya yang berdebat banyak terjadi yang menonton pun terbawa suasana.

Melihat tayangan seperti itu bagi orang yang paham dan mengerti, menganggap hal tersebut adalah biasa dalam dunia demokrasi. Berbeda jika yang menonton dan melihat adalah orang yang awam yang tidak mengerti dan paham, hasil dari perdebatan berpengaruh terhadap antusiasme masyarakat, tidak jarang banyak yang malah menjadi antipati dan acuh. Maka, saat semua itu terjadi masyarakat awam bukan lagi melihat program dan rencana kerja,  tapi mereka melihat sosok yang berbicara. Terkadang, masyarakat banyak juga yang termakan dengan berita-berita bohong. Sehingga, dapat dipastikan bahwa hasil akhir dari pemilihan umum tersebut bukan malah meningkatkan kesejahteraan malah yang terjadi adalah kebalikannya.

Saat ini menjadi masyarakat modern harus mau dan mampu mengerti tentang perihal demokrasi, tatanan negara dan cara bernegara, lebih jauh lagi masyarakat harus akrab dengan dunia hukum dalam negara demokrasi. Dengan demikian, maka akan tercipta masyarakat yang cerdas terutama dalam hal pemahaman demokrasi dan hukum. Pertanyaanya adalah kapan masyarakat kita mengertai dan mengetahui tentang hal yang berhubungan hukum, demokrasi dan tatanan bernegara di Republik Indonesia. Sebagai warga negara kita wajib untuk taat hukum dan juga mengerti tentang hukum, atau istilah lain adalah melek hukum. Saat kita mengerti akan hukum, maka kita tidak akan pernah dibodohi oleh orang-orang yang mengerti hukum. Saat itulah masyarakat menjadi cerdas. Mereka mengetahui mana yang menjadi hak dan mana yang menjadi kewajiban, dan menyadari bahwa semua sama dalam pandangan hukum.

Lingkungan sekolah adalah salah satu lingkungan yang paling komprehensif dalam mengenalkan dan belajar tentang hukum, demokrasi dan lainnya yang berhubungan dengan tatanan bernegara khususnya di Indonesia. Salah satu mata pelajaran yang paling mungkin dan berkaitan erat dengan dunia hukum, demokrasi dan hal lainnya yang berkaitan dengan tatanan bernegara tersebut adalah Pendidikan Kewarganegaraan atau sering disingkat PKn.

Pendidikan kewarganegaraan sudah mulai dipelajari di tingkat SMP hingga Universitas. Untuk itu maka SMP bisa dijadikan sebagai awal bagaimana masyarakat muda ini mengenal dengan dunia hukum dan juga demokrasi. Di sekolah para siswa bisa diajarkan demokrasi secara sederhana di mulai dengan pemilihan ketua kelas. Lebih tinggi lagi pemilihan ketua organisasi siswa intra sekolah atau OSIS. Proses pemilihan tersebut menjadi cikal bakal pemahaman demokrasi bagi para siswa yang kedepanya akan menjadi bagian dari masyarakat Indonesia.

Mungkin, kekurang dewasaan kita dalam melaksanakan demokrasi saat ini adalah karena pada saat dulu belajar di bangku sekolah memang tidak dilatih untuk dewasa. Kita jarang berlatih untuk bagaimana bisa menerima perbedaan pendapat dan juga memberikan pendapat secara santun. Sehingga saat ini banyak yang meributkan yang sebetulnya hal yang tidak selayaknya diributkan. Kita lebih terkurung pada masalah, bukan bagaimana menyelesaikan masalah. Pada akhirnya, negara ini tidak menjadi maju.

Sudah selayaknya sekolah juga berperan menyiapkan para calon pemimpin negara ini dengan memberikan pendidikan yang sesuai dengan problematika yang akan dihadapi di dunia nyata nantinya. Pembelajaran yang meyakinkan para peserta didik akan pentingnya peran kita dalam demokrasi sangat dibutuhkan salahsatunya adalah PKn yang saya sebutkan di atas. Sehingga dengan demikian akan terbentuk generasi yang melek demokrasi dan tentunya kemajuan negara yang kita cintai akan terwujud. Sudah saatnya orang baik memegang demokrasi. Di tangannya kemakmuran dan kesejahteraan bukan lagi hanya sebuah janji tapi akan menjadi bukti. ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*