Pelangi di Larantuka: Catatan Rihlah Literasi ke Nusa Tenggara Timur (11)

Oleh YANUARDI SYUKUR Pada tahun 1983, Guru Besar Universitas Harvard Howard Gardner menulis buku yang berpengaruh di dunia dalam melihat modalitas kecerdasan manusia yang kita kenal dengan nama kecerdasan majemuk (multiple intelligences). Dalam buku berjudul Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences, Gardner membagi kecerdasan majemuk dalam beberapa kategori, salah satunya adalah bodily-kinesthetic. Secara mudah, kecerdasan jenis ini terkait dengan aktivitas olahraga atau gerakan tubuh. Aktor dan atlet masuk dalam kecerdasan jenis ini. Sebelum masuk ruangan acara, kami telah… Baca selengkapnya

Pelangi di Larantuka: Catatan Rihlah Literasi ke Nusa Tenggara Timur (10)

Oleh YANUARDI SYUKUR• Setiba Bupati Flores Timur, Antonius Hubertus Gege Hadjon (disingkat Anton Hadjon) di lokasi Seminar Nasional “Digital Literacy” di Gedung OMK Larantuka, kami bersama-sama Bupati disambut oleh tarian dari anak-anak SDI Supersemar, dan disambut dengan pengalungan kain selendang lokal. Dalam perjalanan masuk ke gedung, kita terasa seperti orang penting. Padahal saya merasa bukan siapa-siapa, dan mungkin prosesi itu lebih cocok bagi pejabat. Tapi, karena itu bagian dari proses jalannya acara (mungkin juga bagian dari seremoni) maka harus dijalani.… Baca selengkapnya

Pelangi di Larantuka: Catatan Rihlah Literasi ke Nusa Tenggara Timur (9)

Oleh YANUARDI SYUKUR• Kebijaksanaan hadir dimana-mana. Tak terkecuali di Larantuka. Di sela-sela obrolan dengan beberapa kawan baru, saya mencatat ucapan-ucapan penting yang terlontar karena tingkat kedalamannya yang inspiratif dan menggugah. Suatu ketika, Romo Thomas Labina berkata, “Kambing jantan walaupun kurus tapi dia punya tanduk panjang maka dia berharga. Begitu juga dengan babi, jika taringnya lebih panjang walaupun kurus, dia berharga.” “Ini terkait dengan harga atau marwah manusia,” kata saya di status Facebook. Manusia jadi berharga karena apa? Mungkin: nama (karena… Baca selengkapnya

Pelangi di Larantuka: Catatan Rihlah Literasi ke Nusa Tenggara Timur (8)

Oleh YANUARDI SYUKUR• Sebelum berangkat ke Larantuka, saya berteman di Facebook dengan seorang kepala sekolah, bernama Hen Kelen. Namanya mengingatkanku pada Helen Keller (1880-1968), seorang penulis Amerika, aktivis politik, dan dosen. Di tengah berbagai kekurangannya (disabilitas), Helen Keller menulis 12 buku dan beberapa artikel. Dia tidak bisa melihat dan mendengar, akan tetapi anehnya bisa menulis buku, bahkan buku pertamanya itu terbit pada usianya 11 tahun. “The Frost King” (1891), demikian judul buku pertamanya. Kendati ada yang bilang buku itu merupakan… Baca selengkapnya

Pelangi di Larantuka: Catatan Rihlah Literasi ke Nusa Tenggara Timur (7)

Oleh YANUARDI SYUKUR• Pada sebuah malam di Larantuka, saya mendengar lagu dari Hello, judulnya “Di Antara Bintang”, dirilis tahun 2011. Di antara beribu bintang hanya kaulah yang paling terang. Di antara beribu cinta pilihanku hanya kau sayang. Takkan ada selain kamu dalam segala keadaanku. Cuma kamu ya hanya kamu yang selalu ada untukku. Mendengar lagu ini saya sering dengerin dengan seksama. Kadang menghayati juga sih. Lagu-lagu tertentu memang ada yang menyentuh hati, bahkan mereka seakan-akan menceritakan tentang diri kita–pendengarnya. Saat… Baca selengkapnya

Pelangi di Larantuka: Catatan Rihlah Literasi ke Nusa Tenggara Timur (6)

Oleh YANUARDI SYUKUR• Sepanjang “karierku” sebagai penikmat ikan, menurutku ikan Larantuka ini paling enak di banding daerah lain. Agak subyektif memang. Mungkin karena sejak tinggal di Depok saya jarang makan ikan yang betul-betul segar, atau karena memang ikan Larantuka itu aslinya paling enak. Kata salah seorang kawan, ikan Larantuka itu enak karena dia berada di tempat pertemuan air tawar dan air asin. Kalau nggak salah, begitu katanya. Jika, begitu benar adanya, maka kita perlu cari ikan yang berada di tempat… Baca selengkapnya

Pelangi di Larantuka: Catatan Rihlah Literasi ke Nusa Tenggara Timur (5)

Oleh YANUARDI SYUKUR• Ada tiga hal yang inheren dalam kebudayaan orang Larantuka, yaitu: penghargaan terhadap budaya leluhur, penghayatan atas nilai Katolik dan toleransi, dan penghargaan terhadap alam. Itu amatan sederhana saya dalam kunjungan yang sangat terbatas ini. Orang Larantuka umumnya beretnis Lamaholot. Etnis ini tersebar di Nusa Tenggara Timur di Kabupaten Flores Timur, Tanjung Bunga, Adonara, Solor, dan Lembata. Bahasa mereka namanya Lamaholot juga yang terbagi dalam dua dialek, yaitu Lamaholot dialek barat (Kabupaten Flores Timur), dan Lamaholot dialek timur… Baca selengkapnya

Pelangi di Larantuka: Catatan Rihlah Literasi ke Nusa Tenggara Timur (4)

Oleh YANUARDI SYUKUR• Perjalanan dari bandara ke Hotel Asa tak seberapa jauh. Tidak sampai satu jam sudah sampai. Saya dan Pak John Lobo dijemput oleh Ketua Panitia, Pak Arnoldus Ola Aman dan ibu bendahara pakai mobil salah seorang kepala dinas setempat. Tiba di Hotel Asa, lumayan menyenangkan. Karena hotelnya tidak seberapa besar, tapi bagus dan pinggir laut. Kolam renang kecil dibuat di pinggir pagar pantai. Di luarnya, ada kapal yang biasa dipakai untuk makan-makan. Tapi waktu kami ke situ, kapal… Baca selengkapnya

Pelangi di Larantuka: Catatan Rihlah Literasi ke Nusa Tenggara Timur (3)

Oleh YANUARDI SYUKUR• Dalam perjalanan menuju pesawat Wings Air, ada yang manggil saya dari belakang. “Bapak ke Larantuka, ya? Pak Yanuar, bukan?” tanya seseorang. “Iya, Pak.” Ternyata, itu seorang kawan yang juga pembicara juga di seminar nanti. John Lobo, namanya. Saya sudah hafal namanya lewat statusnya yang saya baca di timeline Facebook Maksimus. Walaupun kenal nama dan sekilas dari foto, tapi saya kadang memilih berhati-hati untuk menyapa. Soalnya, pernah di salah satu kantor di Jalan Sudirman, Jakarta, saya menyapa orang… Baca selengkapnya

Go to Top